alam

alam
gajah besar hati harus lebih besar

Sabtu, 18 Desember 2010

Aku takut Mati

Malam yang menakutkan itu …, terjadi lagi aku kira aku akan mati malam itu. Semalam pada tanggal 17 desember 2010. Malam hari hujan sangatlah deras, angin kencang sekali bertiup, kurasa sangat nyaman untuk tidur dengan selimut kesayanganku yang bisa menghangatkan, aku terlelap sebentar menikmati suara air yang turun diluar kamarku. Aku suka suara hujan, aku suka wangi hujan..entah kenapa aku lebih suka hujan daripada panas yang sering membuatku sakit. Malam itu saat hujan deras papa,mama dan adikku yang paling kecil belum juga pulang, tanpa memikirkan apapun aku tetap saja terlelap dalam tidurku, sampai kira-kira pukul 22.00 mereka pulang, saat suara klakson motor berbunyi dan suara mama terdengar memanggil aku, kakaku, dan adik laki-lakiku untuk membukakan pintu, tapi yang akhirnya membukakan pintu adik laki-lakiku. Sesampainya di rumah, mereka semua membersihkan diri karena telah basah terkena air hujan. Disinilah saat-saat yang menakutkan bagiku terjadi, tiba-iba saja tubuhku terasa sangat pegal, dingin tiba-tiba menusuk tulangku, hawa panas seperti keluar dari dalam tubuh, aku resah, kedinginan, badanku seperti remuk. Aku kira hanya dingin biasa yang kualami, lalu ku tarik lagi selimut, aku mencoba untuk tidur lagi, namun semakin menggigil, seperti disiram air es, karena tidak tahan kuambil baju hangatku, kupakai kaos kaki, dan aku mencoba tidur lagi tapi tetap saja dingin. Aku duduk sambil menangis sendiri menahan rasa sakit dan dingin itu. Pikiranku pun lansung melayang entah kemana, aku takut mati. Itu yang kupikirkan. Rasa takut mati yang kesekian kalinnya kurasakan, aku terus menangis lalu karena sudah merasa tidak tahan menahan sakit itu, aku keluar kamar, mencari mamaku, yang pada malam itu kebetulan di ruang tamu ada kawan papaku. Papa menayakan aku yan g menangis sambil jalan mungkin dipikirnya aku ngelindur, “dek..dek kenapa..,??” kata papa tapi aku hanya menagis, lalu kubanguni mama yang mungkin baru saja terlelap tidur, “ma.., dingin banget,, aku enggak tahan” sambil menangis aku memeluk mamaku, lalu mama pun panik, kenapa nak katanya, kedinginan??sambil di pegangnya keningku, ohh panas ini badanmu, pantes kedinginan, sudah minum obat, katanya, belum ma kujawab, lalu mama pun keluar kamar untuk mencari obat, tapi ternyata obatnya habis, papaku bertanya, kenapa winda katanya, sakit dia, panas bandannya. Tanpa memperdulikan hujan deras malam itu, akhirnya mama pergi ke warung untuk membeli obat, padahal tidak ada payung, dengan plastik mama menutup tubuhnya. Tidak peduli dia hujan yang derasa itu demi aku anaknya. Ini satu tanda kasih sayangnya. Kemudian aku minum obat dan kembali lagi ke kamarku, sebelum tidur aku meminta pada Allah, “Yaa.., Allah sakit sekali kurasa ini semua, tolong hilangkan sakit ini. Tanpa berlama-lama akhirnya aku tertidur hingga pagi hari.

Senin, 22 November 2010

Perjalanan Sang Manusia Kecil


Kisah sedih di hari minggu…, itu lirik sebuah lagu bukan itu yang mau aku kenang.., karena kisah sedihku bukan hanya di hari minggu saja. Kisah ini kisah yang menjadi acuan atau motivasi terselubung dari dalam diriku, mungkin tiap orang pun ada juga yang seperti itu. kisah yang membuat aku tetap mempunyai semangat tinggi untuk terus sekolah sampai saat ini aku telah menjadi mahasiswa yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
Saat itu, saat –saat ekonomi keluargaku sedang dalam keadaan yang sangat menyedihkan menurutku. Usaha ayahku hancur sehancur-hancurnya, hutang dimana-mana dan untuk membayar itu semua banyak yang harus di korbankan, tidak hanya itu kami pun anak-anaknya harus menjadi korban dan terancam tidak bisa melanjutkan sekolah dan  itu hal yang paling pilu yang kurasa dalam hidupku.  Tidak sekolah ???????? aku hanya lulus SMP ??? benarkah ini Tuhan?? Aku bimbang, aku takut, aku malu, waktu itu sempat berpikir “Apa iya.., aku akan menjadi anak kota yang kampungan??? Nyari duit untuk makan..!! seperti mreka anak jalanan yang putus sekolah” aku menolak itu semua terjadi dalam hidupku.
Sampai akhirnya ayahku memutuskan untuk pulang kampung ke kampungnya di Medan ini. Meskipun sebelumnya tidak pernah niatan ayahku untuk menetap di kampung, tapi apa mau dikata ayah sudah tidak sanggup menghidupi kami di Ibu kota tercinta ini. Tapi pada saat itu aku sedang duduk di kelas 3 SMP dan beberapa bulan lagi Ujian Akhir Nasional (UAN), tidak mungkin aku mengorbankan sekolahku, jadi pada saat itu keputusannya aku tinggal di Jakarta bersama uwakku yang tinggalnya tidak jauh dari rumahku dan sekolahku dan ayah, ibu serta adek-adekku ikut ke medan, sedangkan kakaku tetap bersekolah di Yogyakarta.
Pada saat itu kami terpisah, sediiiiiiihhh sekali rasanya masa itu tapi aku tetap positif thinking tidak pernah memberontak kepada Tuhan. Memang ini jalan hidupku, memang seperti ini proses yang harus kulalui, aku harus tetap tegar dan ikhlas. Tinggal di rumah orang lain yang membuatku tidak betah karena sering ada kata-kata yang menyakitkan perasaan, apalagi ketika kudenagar mereka membicarakan ayahku yang dianggap tidak bertanggung jawab. Ketika itu hari-hariku pun seperti berubah drastis, aku bingung bagaimana aku agar tetap bisa bertahan di sekolah ini yang rata-rata menengah ke atas, aku bingung bagaimana membayar uang sekolahku yang pada saat pindah orang tuaku hampir satu tahun tidak memberi  uang sekolah sebesar Rp. 150.000/bln, huhh semua seperti tertahan di otak dan tependam di hati, beruntung aku mempunyai 4 sahabat yang sejati, mereka terkadang menjadi tempat bersandarku kala berderai air mataku dan mereka selalu menjadi penghibur setiaku yang selau ada di sampingku. Emm.. aku jadi rindu mereka Ka Pit (alm), Sekar, Intan dan Zakiyyah.
Suatu hari aku di panggil oleh Bapak Encep (Urusan Bag. Tata Usah )aku sedang berda di kelas pun lansung terkejut ketika mendengar namaku di panggil. Lalu aku ke kantor Tata Usaha (TU), ku tanyakan “ Ada apa pak???  Kenapa saya di panggil? ” lalu dengan ramah pak encep begitu biasa dia di panggil mengtakan “ Sudah banyak tunggakan SPP kamu, lalu ini mau bagaimana ??” sekolah sudah tahu sebelumnya dari kawan-kawanku bahwa kelurga kami sedang tidak stabil, jadi langsung aja aku jawab dengan jawaban anak kelas 3 SMP dan mata yang berkaca-kaca “ Pak orangtua saya belum ngirin uang juga, saya enggak tahu mau bagimana…!!” pak encep pun hanya tersenyum karena wajahnya memang selalu begitu, ramah dan tidak sombong. Begini winanda katanya “ Kepala sekolah dan Yayasan memilih kamu salah satunya sebagai siswa berprestasi yang kurang mampu untuk pembebasan SPP selama 6 bulan dan jika kamu terus berprestasi SPP selanjtnya diskon 50%”. Daalm hatiku seperti entah terjadi apa aku senang bukan kepalang, karena akhirnya satu masalah selesai. Dan selama duduk di bangku SMP aku terus berusaha untuk tetap berprestasi.
Yang paling memilukan dan kuingat mungkin sampai ku tua nanti adalah ketika aku lulus sekolah Menengah Pertama (SMP) dan akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Aku memberitahu orang tuaku dan menagih janji mama yang waktu akan pergi dulu mengatakan “ Sekolah yang bagus ya nak, nanti Lulus-lulusan mama datang kesini untuk mengurus sekolahmu”. Lewat komunikasi telepon aku menagih janji itu dan mama bilang sambil menagis “ Iya nanti mama datang nak, mama kumpul dulu ongkos ya..sabar ya nak, doakan biar cepet ada rejekinya” karena sudah seperti itu aku pun tidak tahan mendengarkan ksedihan mamaku ini, di telepon nangis-nagisan, tangisan itu selau ku dengar setiap kali mama meneleponku. Seperti di koyak hatiku jika mendengar mama menangis dan mengatakan “ Jaga diri ya nak,, baek-baek tempat orang,, jangan lupa sholat, mama sama ayahmu terus berusaha biar kita bisa kumpul lagi”. Itu kata-kata akhir yang selau menyertai tangisannya.
Setelah keluar ijazah dan urusan kelulusan selesai semua, mamaku pun belum datang, aku jadi resah karena, ada tunggakan uang sekolah yang belum dibayar, jadi ijazah tidak bisa diberikan, maklum aku sekolah di Swasta, yang sekolahnya salah satu sekolah swasta yang menjadi favorit dan bayarannya lumayan agak mahal. Dengan mengandalkan diri sendiri aku memohon pada pihak sekolah agar ijazahku bisa ku ambil dan urusan pembayaran tunggu mamaku datang untuk melunasinya. Tapi pihak sekolah hanya memberi copyannya agar aku bisa mendaftar ke Sekolah Menengah Atas. Aku bingung mau daftar kemana, uang saja tidak punya, dan aku tidak mengerti cara-cara daftar sekolah. setelah aku hampir  putus asa akhirnya, mamaku datang, dengan pake acara nangis-nangisan aku mengadukan segala kesusahanku, akhirnya aku berhasil mendapatkan ijazah SMP.
Mamaku mengatakan “ ayo kita pulang ke medan, nanti sekolah disana” dengan penuh keyakinan aku menjawab “ Aku tidak mau sekolah di medan, biarkan aku sekolah disini meskipun tanpa mama, aku yakin aku bisa. ” mamaku pun tidak memaksakan apa-apa, lalu dia bilang “ Kalau seperti itu maunya, tanya papa lah, mama gag bisa memutuskan apa-apa”. Ya sudah …, aku tanya papaku dan apa katanya???? Dia bilang “ gag usah sekolah lagi la ya…, nanti kursus – kursus saja ”. hatiku  entah seperti apa jadinya,, hancur tak karuan. Sambil menangis tersedu-sedu aku mengatkan“ Aku mau sekolah disini pa.., tidak apa-apa sekoalah abal-abal juga yang penting aku sekolah”, lalu sejenak terdiam papaku, dia tidak member komentar apapun. Mau marah gag bisa, mau berontak juga apa yang mau di berontakin ?? kan memang keadaan ekonomi kelurga kami belum membaik, ya sudah hanya bisa pasrah. Keesokan harinya abang mamaku (Uwakku) mengtakan ada pesantren di daerah Parung Bogor, pesantren itu gratis, tidak di pungut biaya apapun, tapi persyratannya setelah lulus sekolah mengabdi 10 tahun di pesantren tersebut. Kemudian mama memberitahu papa, dan untungnya papa tidak setuju. Ketika aku ditanya mau atau tidak, ya jelas aku menjawab mau, asal aku bisa meneruskan pendidikanku. Karena usul uwakku dan papaku tidak setuju akhirnya mamaku mencari sekolah di bogor, dekat rumah nenekku. Kemudian dapatlah sekolah yang menjajikan pekerjaan setelah lulus yaitu SMK PGRI Citeureup ini lah sekolah yang aku banggakan karena sekolah ini yang telah menyelamatkanku dari ketidakjelasan antara terus sekolah atau BERHENTI. 
bersambunnnnggg,............